metode penelitian sampling

POPULASI PENELITIAN (1)
Keseluruhan unit sampel yang berada dalam suatu batasan, dimana generalisasi penelitian akan berlaku padanya.
Batasan Populasi
Dimensi ruang
Dimensi ketercakupan
Dimensi Waktu
Dapat salah satu, atau kombinasi diantara kedua atau ketiganya
Identifikasi Karakteristik
Finite atau infinite (TERTENTU)
Jika finite, homogen, berlapis atau bercluster atau lainnya

POPULASI PENELITIAN (2)
Populasi sasaran (target): adalah populasi aktual dimana peneliti ingin melakukan generalisasi, tetapi secara riil jarang dapat terpenuhi dan diperoleh dinamakan populasi target. Atau suatu populasi dimana keterangan yang diharapkan akan diperoleh.
Populasi akses: adalah populasi dimana peneliti dapat melakukan generalisasi secara riil, karena dalam populasi tersebut tersedia kerangka sampel yang mana sampel akan diambil daripadanya.

POPULASI PENELITIAN (3)
ILUSTRASI 1

Topik: Penelitian ingin mengetahui hubungan antara enterpreunership dengan kinerja UKM di Jawa Timur.
Populasi akses : Seluruh UKM yang berada di Jawa Timur.
Populasi target : Seluruh UKM yang berada di Pulau Jawa atau bahkan di Seluruh Indonesia.

POPULASI PENELITIAN (4)
ILUSTRASI 2
Tujuan penelitian: ingin menyelidiki pembelajaran organisasi dan kewirausahaan Etnis Tiongwha pada usaha kecil roti/kue.
Populasi akses: Seluruh keluarga pengusaha kecil kue/roti (yang termasuk dalam kode ISIC, international standart industrial classificasion, 1541 – manufacture of bakery products) Etnis Tiongwha di Kota Malang.
Populasi target: Seluruh keluarga pengusaha kecil kue/roti (yang termasuk dalam kode ISIC, international standart industrial classificasion, 1541 – manufacture of bakery products) Etnis Tiongwha di Malang Raya (Kota Malang, Kabupaten Malang dan Kota Batu).

SAMPLE (1)
Sampel: bagian dari populasi dan bersifat representatif terhadap populasi tersebut
Misal rata-rata pendapatan per keluarga per bulan hasil penyelidikan terhadap populasi sebanyak 350 000 KK (rata-rata populasi) adalah Rp 1.245.000,-
Sampel (350 KK) representatif : jika diperoleh rata-rata pendapatan per keluarga per bulan Rp 1.155.000,- (misal berada dalam batas rata-rata populasi ± 1 SD, dekat dengan populasi).
Sampel (350 KK) tidak representatif : jika diperoleh rata-rata pendapatan per keluarga per bulan Rp 2.155.000,- (berada jauh dari rata-rata populasi).
Probability sampling
Pada penelitian kuantitatif:
Sampel: large, repesentative, precise, control for extraneous variables, random selection .
Metode sampling: probability sampling
Probability sampling: setiap anggota populasi berpeluang (tidak = 0) terpilih sebagai sampel.

Simple random sampling (1)
Digunakan bilamana populasinya homogen.
Tersedia kerangka sampel (sampling frame )
Setiap anggota populasi mempunyai kesempatan sama untuk terpilih. Misalnya mengambil secara acak dari suatu daftar.
Penarikan sampel tanpa batas: dengan pengembalian
Penarikan sampel terbatas: tanpa pengembalian

Simple random sampling (2)
KEBAIKAN:
Cara penarikan sampel mudah dilakukan, dengan cara lotre atau menggunakan bilangan acak (random)
Penduga nilai tengah (rata-rata) sampel tidak bias
Metode pendugaan sederhana dan mudah

Simple random sampling (3)
KEKURANGAN:
Sampel yang terpilih bisa berjauhan satau dengan yang lain, shingga diperlukan biaya dan waktu tambahan
Diperlukan kerangka sampel
Sampel yang terpilih dimungkinkan tidak mewakili populasi sesungguhnya
PENGGUNAAN:
Jika populasi tidak terhampar secara luas berdasarkan geografis
Jika populasi agak homogen terkait dengan variabel yang diteliti.

Sistematic random sampling (1)
Sampel diambil setiap selang tertentu (k=N/n), di mana pada selang pertama dilakukan pemilihan secara random
Dapat digunakan pada populasi yang berkaitan dengan dimensi waktu, misal pasien yang datang ke rumah sakit, pengunjung supermaket, penghuni hotel, dll. Pada kondisi ini penentuan besarnya k didasarkan pada fisibilitas pengambilan sampelnya
Juga dapat digunakan pada populasi yang tersedia kerangka sampel.

Sistematic random sampling (2)
KEBAIKAN:
Penarikan sampel mudah, terutama pada populasi yang berkait dengan waktu (pasien, orang yang belanja, penghuni hotel, dll)
Sampel yang terpilih terhampar pada seluruh populasi
Bisa lebih teliti daripada simple random sampling

Sistematic random sampling (3)
KELEMAHAN:
Bilamana populasi mempunyai sifat berulang (musiman atau siklus), maka ketelitiannya akan rendah
Kerangka sampel diperlukan
PENGGUNAAN:
Jika anggota populasi terletak secara teracak
Jika kerangka sampel tersedia
Jika populasi berkait dengan dimensi waktu, sehingga bersifat infinite dan tidak tersedia kerangka sampel secara lengkap, namun urutan anggota populasi dapat diidentifikasi.

Stratified random sampling (1)
Populasi dibagi menjadi dua segmen atau lebih yang mutually exclusive yang disebut strata (lapisan), berdasarkan kategori-kategori dari satu atau lebih variabel yang relevan, baru kemudian dilakukan simple random sampling atau sistematic random sampling pada setiap strata.
Masing-masing lapisan kondisinya homogen (seragam) dan antar lapisan heterogen
Strata atau lapisan ini bisa berupa tingkatan (misal pendidikan SD, SLTP, SLTA dan PT) ataupun bukan tingkatan (misal petani, pedagang, pegawai)

Stratified random sampling (2)
KEBAIKAN:
Pembuatan lapisan terhadap populasi memberikan jamninan terhadap sampel yang representatif dan teliti
Pelaksanaanya mudah dan menyenangkan

KEKURANGAN:
Kerangka sampel masing-masing lapisan diperlukan atau harus tersedia urutan dari populasi
Biaya (transportasi) besar jika populasi terhampar pada wilayah yang luas

Stratified random sampling (3)
PENGGUNAAN:
Jika populasi heterogen dan dapat dibuat lapisan, dimana masing-masing lapisan homogen
Populasi tidak terhampar secara luas
Jika persoalan penarikan sampel berbeda pada setiap lapisan

Cluster sampling (1)
Simple random sampling dan stratified random sampling berasumsi ada sampling frame, yaitu daftar lengkap dari anggota populasi. Kalau tidak ada? Cluster sampling bisa digunakan.
Populasi dibagi-bagi menjadi sekelompok (gerombol) yang disebut clusters, biasanya berdasarkan pembagian alami seperti lokasi, golongan sosioekonomi, dsb.
masing-masing gerombol dapat menggambarkan keadaan populasi

Cluster sampling (2)
Jika cluster berupa wilayah (area), ada yang menyebut area sampling
Berbeda dengan stratified: stratified mengambil sampel dari tiap strata, cluster sampling tidak mengambil sampel dari tiap cluster, tetapi memilih cluster sebagai sampel.
Jika semua anggota cluster menjadi sampel single-stage cluster sampling. Jika suatu cluster terdiri dari clusters lagi dan sampel diambil dari clusters di bawahnya multistage cluster sampling.
Primary sampling units secondary sampling units dst.

Cluster sampling (3)
Kurang akurat dibandingkan dengan simple random sampling atau stratified random sampling untuk jumlah n yang sama.
Akurasi dapat ditingkatkan dengan mengambil sampel dari cluster-cluster lain.

KEBAIKAN:
Tidak diperlukan kerangka sampel yang berkait dengan elements, tetapi diperlukan kerangka sampel yang berkait dengan cluster (misal RT, RW, Desa, Kecamatan, Kabupaten/Kota, Provinsi)
Biaya pendaftaran anggota populasi dapat berkurang
Biaya transportasi berkurang

Cluster sampling (4)
Kurang akurat dibandingkan dengan simple random sampling atau stratified random sampling untuk jumlah n yang sama.
Akurasi dapat ditingkatkan dengan mengambil sampel dari cluster-cluster lain.
KEKURANGAN:
Cara analisis data sukar
Biaya analisis data bertambah
PENGGUNAAN:
Populasi dapat membentuk cluster, umunya terkait dengan wilayah administratif atau geografis
Populasi dibagi menjadi cluster, bila anggota populasi berbeda-beda sifatnya sesuai dengan yang diselidiki.

Multi-stage sampling (1)
Penarikan sampel bertahap, pemilihan sampel dilakukan dua tahap atau lebih.
Mula-mula populasi dibagi atas unit sampel (umunya berupa cluster) untuk pemilihan tahap pertama
kemudian satuan- satuan terpilih pada tahap pertama dibagi lagi atas satuan (unit sample) untuk pemilihan tahap kedua, dan seterusnya sampai dengan beberapa tahap penarikan sampel dan kemudian dihentikan.
Simple random samping atau Cluster Sampling juga bisa diterapkan pada setiap tahap,
Bahkan nonprobablity sampling khususnya yang tidak pada tahap akhir. Perlu diketahui bahwa untuk setiap tahap bisa menggunakan teknik sampling yang sama, dan juga bisa berbeda

Multi-stage sampling (2)
KEBAIKAN:
(1) Biaya transportasi rendah
(2) Pelaksanaannya mudah
KEKURANGAN:
Bila unit-unit tahap pertama (sebelumnya) tidak berukuran sama, maka penggunaannya sukar
Penarikan sampel ini memerlukan banyak perencanaan yang harus dilakukan sebelumnya.
PENGGUNAAN:
Jika populasi meliputi wilayah yang luas
Jika daftar populasi yang terkait dengan elements tidak tersedia secara lengkap dan teliti, dan yang tersedia gugusan (unit) yang lebih besar.

Sample size (4)
Beberapa hal yang berkaitan dengan penentuan besar sampel:
(a). Apabila karakteristik (variabel) yang diamati lebih dari satu, maka:
Kumpulkan semua variabel yang berkenaan dengan survey
Adakan prediksi tentang besar sampel berdasarkan masing-masing variabel dan untuk seluruh variabel.
Besar sampelyang disarankan untuk dipilih adalah yang paling kecil.
(b). Apabila tidak ada informasi sama sekali mengenai populasi, maka
besar sampel dapat ditentukan secara proporsional terhadap populasi,
misalnya 2, 5, 10, atau 50 % dari besar populasi (N).

(c). Pada kasus-kasus tertentu, untuk fisibilitas pelaksanaan penelitian,
besar sampel dapat ditentukan secara quota (berdasarkan
pertimbangan tertentu).

ILUSTRASI 1 (A)
Judul Penelitian: Pengaruh Orientasi Pasar Dan Strategi Generik Terhadap Kinerja Perusahaan: Dengan Lingkungan Pemasaran Sebagai Variabel Moderator (Studi Empirik pada Industri Hotel Melati di Daerah Istimewa Yogyakarta).
Elements : hotel melati
Unit sampel : hotel melati
Populasi: adalah semua hotel melati yang ada di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang terdaftar dalam “Indonesia Yogyakarta: Petunjuk Wisata 2003”, jumlah hotel melati pada tahun 2003 sebanyak 313.
Kerangka Sampel: Daftar yang berisi seluruh hotel melati, sebanyak 313 yang tersebar di: kota Yogyakarta 236 buah, Kabupaten Sleman 21 buah, Kawasan wisata Kaliurang 37 buah, Kabupaten Bantul 12 buah, Kabupaten Gunungkidul 6 buah dan Kabupaten Kulon Progo 1 buah.

ILUSTRASI 1 (B)
Teknik sampling: dilakukan secara proportional area random sampling
Sample size: 175 hotel melati, merujuk pada Tabel 2.1
Unit Obsevasi: respondennya adalah para manajer puncak biasanya juga para pemilik hotel

ILUSTRASI 2 (A)
Judul Penelitian: Sifat Wirausaha Pengaruhnya terhadap Pembelajaran dan Kompetensi Wiarausaha dan Pertumbuhan Usaha Kecil di jawa Timur.
Elements: Usaha kecil di Jawa Timur.
Populasi: Seluruh usaha kecil di Jawa Timur. Berdasarkan Dinas Koperasi dan PKM Provinsi Jawa Timur, pada tahun 2002 sebanyak 6,6 juta unit usaha.
Teknik Sampling: Two-Stage Sampling; mengingat populasi yang sangat besar dan menyebar di seluruh wialayah Jawa Timur

ILUSTRASI 2 (B)
Tahap I : Mengambil sampel berupa Wilayah (Kabupaten dan Kota)
Unit sampel: kabupaten dan kota di Jawa Timur
Kerangka Sampel: Dafar kabupaten / kota di Jawa Timur
Teknik Sampling: Convenience sampling (merupakan nonprobability sampling), peneliti memilih sejumlah kabupaten dan kota yang conveniently (dengan baik sekali) dan atau readily (dengan mudah) serta available (tersedia).
Sample size: Dipilih 3 Kabupaten dan 2 Kota sebagai sentra industri kecil

ILUSTRASI 2 (C)
Tahap II : Mengambil sampel berupa Usaha Kecil
Unit sampel: Usaha Kecil
Kerangka Sampel: Daftar yang berisi nama usaha kecil di 3 kabupaten dan 2 kota yang telah terpilih sebagai sampel pada tahap I, misal terdapat 3.850.000 usaha kecil.
Teknik Sampling: dilakukan secara proportional area random sampling
Sampel size: sebanyak 204 usaha kecil, dengan merujuk pada Tabel 2.2a. Kemudian dari 204 sampel tersebut didistribusikan ke 3 kabupaten dan 2 kota secara proporsional sesuai dengan banyaknya usaha kecil (populasi) di kabupaten / kota bersangkutan
Unit observasi: Responden adalah manajer dan sekaligus pemilik usaha kecil.

Nonprobability Sampling
Sampel dalam penelitian kualitatif:
tidak dimaksudkan menarik generalisasi yang berlaku bagi seluruh populasi,
melainkan diarahkan pada representasi terhadap suatu fenomena (sosial).
bagaimana menemukan informan kuci (key informan)
sampling yang digunakan adalah nonprobability sampling
bersifat tidak random, kurang adil (setiap anggota populasi berpeluang tidak sama untuk terambil menjadi sampel),
penerapan statistika terhadap data yang diperoleh bersifat lemah

Namun demikian, metode nonprobability sampling juga bisa diterapkan pada penelitian kuantitatif
Dalam banyak kasus, cara sampling ini lebih tepat atau praktis:
Situasi di mana jumlah kasus yang bisa diteliti terlalu sedikit, misalnya karena biaya terlalu besar untuk menyelidiki banyak kasus (misalnya unit analisa kota, negara, atau yang besar-besar lainnya), sementara probability sampling kurang reliabel untuk jumlah kasus yang terlalu sedikit.
Peneliti hanya bisa bekerja dengan kasus yang ada saja
Penelitian pendahuluan, di mana tujuannya baru mengumpulkan informasi mengenai gejala (tujuan eksploratif), cukuplah menggunakan nonprobability sampling, belum diperlukan generalisasi statistik yang akurat.
Kalau populasinya sendiri jumlah anggotanya kecil (misalnya di bawah 100).

Convenience sampling (1)
Nama lain: incidental, accidental, haphazard, fortuitous sampling
Peneliti memilih sejumlah kasus yang conveniently (dengan baik sekali), readily (dengan mudah) atau available (tersedia).
Metode ini cepat, mudah, dan murah.
Kalau penelitian permasalahan baru, sebagai tahap awal dan generalisasi bukan masalah, metode ini bisa diterapkan.

Convenience sampling (2)
Tapi karena sampel yang cuma “sedapatnya”, tidak bisa ditentukan hasil penelitian ini bisa diterapkannya ke mana, kecuali ke sampel itu sendiri (tidak menjamin representatif).

Purposive sampling (1)
Sampel dipilih dengan ”pertimbangan” sesuai dengan tujuan (purpose) penelitian
Peneliti menggunakan expert judgement untuk memilih sampel yang “representatif” atau “tipikal” dari populasi.
Pertama, identifikasi sumber-sumber variasi yang penting dari populasi. Berikutnya memilih sampel sesuai sumber-sumber variasi tersebut.
Teknik purposive sampling, biasanya untuk prediksi hasil pemilihan “presiden”, adalah memilih propinsi tertentu yang telah bertahun-tahun memprediksikan hasil penghitungan suara nasional secara tepat.

Purposive sampling (2)
Misalnya kalau di propinsi A partai X menang maka diprediksikan dengan sangat yakin (keyakinan sebesar korelasi historisnya) bahwa secara nasional partai X bakal menang.
Tetap kurang bisa diterima dibandingkan probability sampling jika diperlukan generalisasi yang tepat dan akurat. Tetapi kalau berbagai hal membatasi, ya boleh lah.
Secara umum lebih “kuat” dibandingkan convenience sampling tapi sangat tergantung expert judgement-nya peneliti.
Kelemahan utama: “informed selection” seperti itu memerlukan pengetahuan yang cukup mengenai populasi.

Quota sampling (1)
Quota sampling adalah sejenis purposive sampling yang ada kemiripan dengan proportionate stratified random sampling:
Populasi dibagi-bagi menjadi strata yang relevan seperti usia, jenis kelamin, lokasi, dsb.
Proporsi tiap strata diperkirakan atau ditentukan berdasarkan data eksternal kemudian total sampel dibagi-bagi sesuai proporsi ke tiap strata (kuota).
Untuk memenuhi jumlah sampel untuk tiap strata, peneliti menggunakan expert judgement-nya.

Quota sampling (2)
Misalnya populasi 55% pria 45% wanita. Sampel 100 orang berarti 55 pria dan 45 wanita. Pemilihan sampelnya sendiri tergantung penilaian peneliti.
Bedanya dengan stratified random sampling, sampel diambil secara acak sedangkan dalam quota sampling, sampelnya dipilih berdasarkan pendapat subjektif peneliti pokoknya kuotanya terpenuhi (bisa convenience sampling pada setiap strata).
Total sampel juga a convenience sample tapi ada kemiripan dengan populasi dalam karakteristik-karakteristik penting tertentu (karena pembuatan stratanya).

Quota sampling (3)
Bias peneliti sangat mempengaruhi: pemilihan teman sebagai sampel, milih lokasi yang nyaman, dan sebagainya.
Keuntungan:
tidak perlu membuat sampling frame
kalau perlu konfirmasi tinggal cari lagi yang baru asal kuota terpenuhi, tidak perlu menghubungi responden yang telah diwawancarai.
Cepat, mudah dan murah.

Other Sampling Designs
Referral sampling:
Network sampling: responden diminta mengidentifikasi anggota2 dari target populasi yang ada hubungan dengan dirinya
Snowball sampling: chain referral, responden diminta memberikan nama dan kontak kepada anggota lain dari target populasi. Pertama dipilih sampel inisial, umumnya dilakukan secara accidental (random). Asumsinya sesama anggota saling mengenal. Misalnya: hackers.

Bookmarks:
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • Digg
  • LinkedIn
  • Twitter

No related posts.

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

3 Comments »

 
  • thatien says:

    salam kenal sebellumnya .., maaf saya ingin bertanya masalah contoh sampling dan sampling tujuan (purposive) dalam manajemen keuangan coz skrng saya lagi menyusun proposal skripsi ..,!!! misalnya populasi saya adlah perusahaan pertambangan batubara bukit asam tbk, sdngkan untuk sampel nya laporan rugi laba dan neraca .., nah yang ingin saya tanyakan gimana cara membuat sampling purposive

  • rini says:

    blogny bgs bgt..
    saya mau tny,
    sampling scr random bs ap saja slain lotre? Ngambil nama sample sesuai absen bs ga?

  • yusuf says:

    untuk contoh Purposive sampling untuk penelitian kualitataif kayak mana ya thank….importance

 

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> <pre user="" computer="" escaped="">